Tanggal penulisan 29/10/2011 14:26:09
Salam kenal para bunda. aku mau sharing pengalaman dan apa yg kurasakan setelah punya baby
Aku adalah seorang ibu dari 2 orang putra, yg pertama berusia 4tahun2bulan, yg kedua berusia 3bulan.
Aku dan suami berasal dari keluarga kecil sederhana, dgn kondisi ekonomi yg pas-pasan, krn itu kami berdua hrs bekerja.
Singkat cerita 9bulan setelah menikah , aku pun hamil anak pertama, kehamilan ini membawa kebahagiaan sekaligus kekhawatiran,
Bahagia krn akan punya bayi. khawatir krn secara financial kami blm siap.
Seiring berjalannya waktu , kehamilan makin mendekati waktu bersalin, dan kami blm ketemu solusi mengenai gimana nanti dgn si kecil, apa sy hrs berhenti bekerja untuk mengasuh si kecil, sementara penghasilan suami tdk cukup untuk kebutuhan keluarga, krn kami juga baru saja mencicil sebuah rumah sederhana,
Akhirnya dari keluargaku memberi jalan keluar, si kecil di rawat sama mamaku di kampung, dgn berat hati kamipun setuju, dgn pertimbangan setelah setahun kami akan merawat sendiri, krn saat bayi masih terlalu riskan untuk di percayakan sama pembantu/ pengasuh. Aku pulang untuk melahirkan di sana,
Setelah melahirkan, bayiku baru berumur 1bulan 2minggu, sy sdh hrs meninggalkannya, krn suamiku di bogor sedang jatuh sakit, sampe hrs di rawat beberapa hari di rumah sakit.
Rasanya sedih sekali, hatiku rasanya hancur. Apalagi niatku untuk memberikan ASI tdk berhasil, krn sejak melahirkan produksi ASIku sangat sedikit, dan lama baru keluar, krn itu bayiku hrs minum sufor sejak lahir. Saat ASIku keluar, bayiku tdk mau menyusu, udh diusahakan tetep ngk mau, di peras di botol hasilnya sedikit sekali, lama kelamaan tdk keluar sama sekali.
Setelah sy kembali ke rumah, hari-hari kulewati dgn bersedih, menangis, tiap saat ingat si kecil, air mata langsung jatuh. saya kembali bekerja, di tambah mengurus suami yg masih dalam masa pemulihan, kadang rasanya sudah ngk tahan, pengen teriak, nangis , tdk ada yg bisa mengerti beban di hati. Berat badan turun drastis, kalo orang lain banyak yg mengalami masalah dgn berat badan setelah melahirkan, tdk demikian dgn aku, beratku turun dgn cepat dlm waktu 3bulan turun 23kilo, lebih banyak berat yg naik selama hamil,
selama hamil BB naik 19kg.
Orang-orang di sekelilingku seakan-akan menghakimi aku , kalo ada adalah ibu yg tega, kok bisa tahan jauh / berpisah sama anak .
Saya cuma bisa tersenyum, seandainya mereka tau apa yg saya rasakan, situasi yg membuat sy hrs memilih jalan seperti itu.
singkat cerita, 7 bulan berlalu, kami berencana ingin melihat sikceil, berangkatlah kami, dlm perjalanan saya tak henti-hentinya membayangkan , gimana nanti tingkah si kecilku.
Ternyata bunda, bayi kecilku tdk mengenali aku ibunya, bahkan sewaktu aku ingin mendekati dan mengendongnya, dia menangis sekencang-kencangnya, saya coba gendong, dia meronta, sambil tangannya mengapai ke arah neneknya ( mama saya ), saat itu hati saya sedih sekali, ingin nangis, cuma terpaksa aku tahan. Orang tuaku menghibur aku, katanya " bersabar aja. butuh waktu untuk proses pengenalan" , aku tinggal di sana sampai 10 hari, tetap bayiku asing dgn kami orangtuanya.
Kamipun pulang ke bogor dgn perasaan sedih. Setahun berjalan, anakku makin sulit lepas dari omanya, di tambah lagi omanya juga sangat sayang sama anakku, maklum cucu pertama, akhirnya seiring berjalan waktu kami makin sulit untuk mengambil anakku krn anakku selalu mau dgn omanya,
karena kondisi seperti itu, akhirnya saya dan suami kepingin punya anak lagi, dgn tekad kali ini kami akan mengasuh di rumah aja.
Akhirnya aku hamil anak kedua, sejak kehamilan sdh di rencanakan kalo sdh lahir , kami akan mengambil pembantu dan untuk mengatasi rasa was-was krn di tinggal sama pembantu, adik perempuan suamku akan datang dari kampung untuk tinggal bersama kami membantu mengawasi anak kami.Kebetulan adik suamiku baru juga lulus.
Setelah aku melahirkan, ternyata kenyataan tdk sesuai seperti yg di rencanakan, Mencari pembantu sangat sulit, sdh gonta-ganti , trus di tambah adik iparku tdk jadi datang, dia berubah pikiran di saat-saat terakhir, bahkan saat itu tiket udh di tangan, Bayangkan rasanya, ingin marah, nangis, kecewa campur aduk.
dan Skrg ini saya kembali menghadapi dilema. Apa kami kembali hrs menitiplan di si kecil sama orangtua, dgn konsekuensi merasakan kesedihan kembali dan sakit hati yg berkepanjangan, ataukan sebaiknya sy berhenti bekerja saya, hanya saja, itu juga jadi beban pikiran aku, apalagi anak pertamaku sdh akan masuk sekolah yg berarti biayanya makin bertambah.
saya bener-bener bingung, dan merasa saya bukan ibu yg baik, Tdk bisa menjaga dan menemani anak saya. Smua first momen dia terlewati tanpa kehadiranku. Apa yg harus kulakukan....
Baca cerita
posted in
Being a mom
|
1 Komentar